Sudahkah perusahaan/instansi/organisasi Anda merekrut pegawai disabilitas, khususnya tunanetra?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kerap terlintas di benak pemberi kerja sejumlah pertanyaan sederhana mengenai bagaimana tunanetra bisa menggunakan komputer dan smartphone? atau apakah tunanetra bisa beradaptasi dalam pekerjaan? Mari kita ulas singkat di sini.

Tunanetra dan Era Digital

Kemajuan informasi dan teknologi yang kian canggih menggiring setiap insan masuk ke era digital, termasuk VIP (visual impaired people) atau lebih dikenal sebagai tunanetra dan low vision. Era digital ini mendukung kemandirian VIP melalui perangkat lunak baik yang terdapat di komputer maupun smartphone guna membantu mereka “melihat”.

Melalui akses internet, penyandang tunanetra dan low vision dapat secara mandiri membaca melalui perangkat digital, eksis berjejaring di media sosial, bahkan menonton video via Youtube. Lantas bagaimana para VIP melakukan itu semua?

Tunanetra mengakses komputer/laptop dengan bantuan screen reader software; umumnya mereka menggunakan perangkat lunak JAWS (berbayar) dan NVDA (tidak berbayar). Sementara dalam menggunakan smartphone, para VIP hanya perlu mengaktifkan menu aksesibilitas yang telah tersedia. Sebagai informasi, software pembaca layar pada Andorid disebut Talkback, sedangkan untuk perangkat Apple dikenal dengan nama VoiceOver. 

Teknologi-teknologi tersebut membantu tunanetra dan low vision untuk dapat mengakses informasi, serta melakukan berbagai hal yang sama seperti orang awas. Dengan kata lain, VIP juga memiliki kesempatan yang sama dengan orang awas, termasuk dalam bekerja.

Baca 5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Cara Tunanetra Mengakses Internet

Kesetaraan Hak Bekerja

Tenaga kerja disabilitas sendiri merupakan tenaga kerja yang mempunyai kelainan fisik dan mental. Namun, mampu melakukan kegiatan secara layak, serta melakukan pekerjaan baik di perusahaan dalam hubungan kerja internal maupun eksternal guna menghasilkan barang dan jasa (UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan).

Oleh karena itu, memiliki kesempatan yang sama, terutama dalam memeroleh pekerjaan merupakan hak setiap warga negara Indonesia, termasuk bagi para disabilitas, diantaranya #tunanetra. Membuka kesempatan bekerja tidak hanya menjadi tanggung jawab sebagian kalangan, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh pihak, baik pemerintah, sektor swasta, lembaga nonpemerintah, dan seluruh penyedia lapangan kerja.

Kewajiban itu sejalan dengan Pasal 53 UU No.8 tahun 2016 tentang Disabilitas yang menyebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan paling sedikit 2% penyandang disabilitas. Sementara untuk perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Regulasi ini akan menjadi kekuatan hukum yang memudahkan para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra untuk meningkatkan taraf hidup dan mensejahterakan masyarakat. Lalu, apa saja dampak positif mempekerjakan disabilitas?

Kesetaraan Hak Bagi Tunanetra

Dampak Positif Mempekerjakan Disabilitas

Mempekerjakan pekerja disabilitas sama halnya dengan pekerja yang bukan disabilitas. Berikut beberapa alasan yang dihimpun dari International Labour Organization mengenai sisi positif mempekerjakan disabilitas bagi perusahaan.

#1 Penyandang Disabilitas merupakan sumber keterampilan dan bakat yang belum tersentuh di dunia usaha, baik untuk keterampilan teknis maupun penyelesaian permasalahan yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

#2 Penyandang Disabilitas mewakili segmen pasar bernilai tinggi materil yang kerap terabaikan. Peluang pasar ini tidak hanya bagi para penyandang disabilitas, tetapi juga bagi para keluarga mereka. Peluang pasar ini masih terbuka lebar sehingga dapat dioptimalkan. Selain itu, seiring bertambahnya usia populasi, maka meningkat pula insiden disabilitas, sehingga penting untuk mengetahui produk dan jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan dalam segmentasi ini.

#3 Mempekerjakan Penyandang Disabilitas meningkatkan moral angkatan kerja yang bekerja bersama mereka. 

#4 Pekerja Disabilitas merupakan salah satu pekerja yang dapat diandalkan, khususnya dalam produktivitas, keselamatan, dan kehadiran. 

#5 Pekerja Disabilitas lebih loyal terhadap pekerjaan. Hal ini dapat menguntungkan perusahaan karena dapat mengurangi pengeluaran terkait rekrutmen, dan pelatihan bila harus mencari pegawai baru.

Selain kelima hal tersebut, menurut survey yang dilakukan oleh Universitas Massachusetts, 92 persen masyarakat Amerika lebih menyukai perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas dibandingkan yang tidak. 

Di Indonesia sendiri, pemerintah Indonesia memberikan apresiasi penghargaan bagi perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Hal ini diatur melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 326 Tahun 2019 Tentang Pedoman Pemberian Penghargaan Kepada Perusahaan Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas.

Mitos dan Fakta Mempekerjakan Disabilitas

Dalam mempekerjakan disabilitas, ada mitos yang selalu berkembang di masyarakat maupun kalangan pengusaha. Apa saja mitos tersebut? Berikut mitos dan fakta mempekerjakan disabilitas yang dikutip dari International Labour Organization.

Mitos: Penyandang disabilitas mempunyai kinerja/tingkat absensi yang lebih rendah

Fakta: Studi menunjukan bahwa pekerja disabilitas setara atau lebih baik dibandingkan dengan pekerja non-disabilitas dalam keselamatan kerja, melakukan tugas pekerjaan, absensi, dan loyalitas pekerjaan.

Mitos: Aksesibilitas hanya menguntungkan penyandang disabilitas

Fakta: Aksesibilitas mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan semua orang, baik bagi penyandang disabilitas maupun yang bukan. Adapun manfaat aksesibilitas diantaranya melengkapi fitur warna, serta paduan suara yang biasa ditemukan di tempat penyebrangan maupun di perempatan jalan, kontras tonal, permukaan, sistem peningkatan pendengaran (seperti loop system), presentasi maupun informasi serta papan pengenalan jalan.

Mitos: Sebagian besar penyandang disabilitas memerlukan penyesuaian yang rumit dan mahal.

Fakta: Sebagian besar pekerja dengan disabilitas tidak memerlukan penyesuaian khusus. Jika memang diperlukan, penyedia kerja sebenarnya hanya menyediakan penyesuaian sekedarnya, bahkan lebih sedikit.

Mitos: Penyandang disabilitas memerlukan bantuan secara terus-menerus.

Fakta: Setiap orang, tidak hanya penyandang disabilitas, memerlukan bantuan dari waktu ke waktu. Hal terpenting bagi penyandang disabilitas ialah dapat melakukan fungsi pekerjaan secara mandiri.

Jadi, tidak perlu khawatir mempekerjakan disabilitas pada perusahaan Anda karena semua mitos tersebut bertolak belakang dari faktanya. Mau tahu lebih lanjut mengenai perspektif pengusaha seputar bekerja dengan penyandang disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision? Bagaimana pengalaman pengusaha mempekerjakan VIP yang bebas dari rasa khawatir? Serta bagaimana VIP bekerja bersama orang awas? Nantikan jawabannya dalam Diskusi Panel bertajuk Recruit Your First Blind Employee Worry-Free pada Peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 5 Desember 2020 mendatang bersama SuariseID dan DNetwork Indonesia dan Atamerica. Tandai kalendermu ya!

Tinggalkan Balasan

Be Our Hiring Partner

Digi Training selalu dihadiri oleh individu-individu berbakat dengan kualitas dan semangat berkarya. Jadi Hiring Partner kami dan bantu perusahaan untuk menemukan kandidat terbaik. Temukan kandidat terbaikmu di Digi Training.