Semua perusahaan memiliki keinginan untuk memenangkan kompetisi, bahkan dalam situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi seperti saat ini. Kemenangan tidak dapat diperoleh dari peran satu atau dua individu saja, yang mana berarti suatu perusahaan perlu menciptakan sebuah lingkup dimana setiap komponen di dalamnya saling berhubungan serta memengaruhi dan oleh karenanya, setiap komponen perlu berkolaborasi secara dinamis. Ya, setiap perusahaan memerlukan sebuah ekosistem. Lantas ekosistem seperti apa yang dimaksud dan bagaimana cara untuk menciptakannya?

Pada acara DigiHR emeetup yang diselenggarakan 25 Februari lalu, Puspa Maslim, Chief of Happiness Resource at Alterra telah berbagi cara-cara Alterra menitikberatkan fokus pada pembentukan “winning people ecosystem“. Winning people ecosystem merupakan sebuah ekosistem dimana setiap talent di dalamnya memiliki dorongan kuat untuk menjadi pemenang dengan bekerja sama. Karena dengan demikian, perusahaan akan lebih berpeluang bukan hanya untuk mempertahankan lingkungan kerja yang sehat, tetapi juga untuk memenangkan kompetisi.

Ada beragam cara yang dapat dilakukan untuk membentuk winning people ecosystem, beberapa di antaranya yang paling inti ialah dengan Reserve, Culture, and Network.

1. Reserve, yang berarti perusahaan harus berinvestasi terhadap pencapaian-pencapaian tertentu,

2. Culture, yang berarti perusahaan harus mampu menanamkan pemahaman bahwa kegagalan merupakan sesuatu yang dapat diperbaiki dan merupakan dorongan untuk menjadi lebih baik, dan

3. Network yang berarti perusahaan perlu mengembangkan lingkup kerja yang kolaboratif serta mendorong terjalinnya koneksi secara luas.

Hal yang tak kalah penting dipaparkan juga oleh Wulan Ranny, sebagai seorang Head of HR yang memegang peranan penting di bidang ketenagakerjaan dalam perusahaan rintisan berbasis digital, Toko Talk. Beliau menyampaikan bahwa di samping membangun winning people ecosystem, hal yang tak kalah krusial saat ini adalah how to strive back during pandemic. Strive back yang dimaksud bukanlah bagaimana perusahaan berusaha melawan pandemi, tetapi lebih kepada bagaimana perusahaan dapat beradaptasi dengan baik di tengah pandemi.

Seorang praktisi HR profesional akan terus dituntut untuk memutar otak terkait bagaimana caranya mempertahankan spirit para tenaga kerja, dibanding harus memberhentikan mereka secara tiba-tiba. Dengan kata lain, HR profesional harus mampu melihat peluang, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun. Fokus semacam itulah yang pada akhirnya menjadi “blessing in disguise” bagi Toko Talk, yang telah berhasil survive sejauh ini. Lantas bagaimana cara untuk mempertahankan spirit para tenaga kerja?

Wulan menekankan bahwa aspek paling dasar namun krusial untuk mempertahankannya adalah KOMUNIKASI. Mulai dari Crosscheck, Confirming, dan Being Open. Dalam hal ini, perusahaan harus terlebih dahulu berperan untuk meyakinkan para tenaga kerja bahwa tidak apa-apa untuk bersikap terbuka dalam lingkup pekerjaan. Dengan demikian, komunikasi akan terjalin secara lebih baik. Akhirnya Wulan menutup dengan sebuah quote berikut ini:

“Employees are a company’s greatest asset. They’re your competitive advantage. You want to attract and retain the best, provide them with encouragement, stimulus, and make them feel that they’re an integral part of the company’s missions.” -Anne M. Mulcahy

Tinggalkan Balasan

Be Our Hiring Partner

Digi Training selalu dihadiri oleh individu-individu berbakat dengan kualitas dan semangat berkarya. Jadi Hiring Partner kami dan bantu perusahaan untuk menemukan kandidat terbaik. Temukan kandidat terbaikmu di Digi Training.