Creating Millennial Leaders in the Changing World

Dalam situasi normal, bebas dari pandemi saja Indonesia sudah termasuk negara yang sering mengalami perubahan dalam berbagai aspek, pemerintahan, pendidikan, hiburan dan lain sebagainya. Kebutuhan akan pemimpin yang baik semakin nyata. Tempat kerja adalah salah satu tempat di mana tercipta pemimpin, untuk itu para pemimpin yang sudah ada harus mengerti bagaimana cara ‘mencetak’ pemimpin selanjutnya, terutama dari generasi milenial di dunia yang sering berubah-ubah ini. 

Pada 23 September 2020, DigiHR berkesempatan untuk ngobrol dengan Josef Bataona, seorang Executive Coach dan mantan HR Director di beberapa perusahaan besar, mengenai bagaimana menciptakan pemimpin generasi milenial yang baik dan dapat membawa rantai perubahan yang baik pula.

Josef Bataona memiliki pengalaman mendalam di bidang Human Resource dan sudah cukup lama bekerja di bidang tersebut. Ia pernah menjabat HR Director di PT Unilever Indonesia, Bank Danamon, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Saat ini Josef aktif sebagai Executive Coach, fasilitator dan pembicara di berbagai universitas dan konferensi publik dan telah menulis tiga buku.

Kami merangkum beberapa pertanyaan yang diajukan peserta dalam webinar Creating Millennial Leaders in the Changing World yang diadakan DigiHR tanggal 23 September 2020 bersama Josef Bataona. 

Pak Joseph, clue Team Trust and Respect itu totally right. Tantangan ini sebaiknya ditelusuri mulai ditumbuhkan dari mana jika ternyata belum dipahami oleh semua tingkatan jabatan di sebuah perusahaan? Mulai dari diri sendiri dan jadikan itu sebagai contoh. Anda hadir sebagai leader karena ada team. Trust dan Respect itu perlu diraih termasuk dari team Anda, tunjukkan dirimu sebagai leader yang tulus.

Bagaimana Bapak mengubah purpose. Ketika purpose yang sudah kita siapkan ternyata tidak applicable dengan keadaan atau hal lain? Kehadiranmu di mana saja dan kapan saja tentu ada reason, termasuk di dalamnya adalah untuk belajar dari lingkungan atau dari manusia yang berinteraksi dengan kita. Dan mungkin itu merupakan jalan untuk meraih purpose yang sudah Anda rumuskan. Dan purpose itu bukan destiny.

Bagaimana menjalani pekerjaan yang harmonis dengan tim yang berbeda generasi dari baby boomers yang slow dengan generasi Z yang sering kali banyak menuntut reward tapi performa low?

Mulailah dengan pendekatan individu untuk memahami masing-masing anggota team. Manfaatkan kemampuan masing-masing mereka untuk menggandeng mereka bersama team untuk meraih performance yang disepakati bersama. Terus turun dan dialog dengan mereka untuk memahami motivasi mereka, dan yang paling utama adalah bantu mereka untuk menemukan apa makna penting dari apa yang dikerjakan. Itu akan menjadi motivasi utama yang mendorong mereka untuk giat bekerja.

Bagaimana pengalaman Pak Josef untuk gain trust and respect dari tim so they can unleash their potential? Apakah Bapak bisa share best practices atau tips & trick untuk leader bisa meningkatkan delegation dan coaching skills untuk new leader terutama dengan anak buah yang millenials?

Another challenge, di salah satu perusahaan sebuah bisnis start up ICT, in average millenials, namun masih punya perbedaan pemahaman di antara mereka ketika ditantang mengajukan usulan atau pertanyaan atau berani berbeda pendapat… hanya 5% yang berani and the rest mostly as follower. Mengajak diskusi team ada seninya. Mendorong mereka untuk mengeluarkan ide, dibutuhkan trust, suasana keterbukaan dimana mereka merasakan keleluasaan untuk menyampaikan pendapat tanpa takut dianggap sepeleh. Jadi bukan mereka, tapi saya sebagai Leader harus paham bagaimana seni mendapatkan input dari anggota team.

Adakah saran terbaik yang perlu dilakukan oleh millennial leaders yang sedang lead millennial subordinate? Terkadang, mereka memiliki expectation yang sama-sama tinggi, tapi terkadang sama-sama clueless untuk memecahkan goals bersama karena mereka sama-sama ingin mempertahankan pendapatnya yang somehow tidak semua ide/pendapat selalu bisa fit untuk diaplikasikan.

Millennial leader hendaknya tahu dan bisa menempatkan diri sebagai leader. Tanggung jawab dia sebagai leader adalah antara lain men-develop anak buahnya, apapun generasinya, untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Tanggung jawab lainnya adalah mampu membawa mereka sebagai team yang kompak untuk mencapai kinerja team, dengan mengesampingkan kepentingan ego masing-masing.

Apakah Bapak pernah ada pengalaman atau cerita mengenai menemukan meaningful work ini untuk rekan-rekan kerja yang berada di pabrik? Sebaiknya meaningful work ini ditemukan sendiri oleh pemegang jabatan atau boleh diarahkan oleh tim HR?

Sebaiknya proses itu dilakukan Bersama antara leader dan team-nya. Gunakan job desc masing-masing untuk melakukan diskusi tentang mengapa mereka mengerjakan ini, apa makna di balik apa yang dia kerjakan. Diskusi ini bukan sekali tapi terus-menerus. HR boleh memfasilitasi tapi bukan mengambil alih tugas ini.

Saya ingin bertanya bagaimana caranya kita bersikap adil pada bawahan dan jika bawahan atau tim kita belum juga bisa memahami motivasi mereka dalam bekerja, bagaimana kita membantu mereka untuk menemukan motivasi kerjanya?

Sebagai leader, luangkan waktu, turun untuk melakukan dialog dengan team, dialog dengan masing individu team, dalam bentuk yang lebih informal, tanyakan kepada mereka apa yang memotivasi mereka dalam bekerja. Kalau mereka tidak bisa mengutarakan itu, cari cara yang lebih sesuai, misalnya melalui coaching program.

Beberapa contoh yang Bapak sampaikan adalah yang jawabannya iya untuk diimpelentasikan. Apakah ada contoh yang diajukan millennials tetapi ditolak, alasannya apa, pertimbangannya apa? 

Contoh yang saya berikan adalah untuk mengilustrasikan bahwa usul itu harus disertai alasan-alasan yang bisa diterima. Apa manfaat yang bisa didapat kalau usul tersebut diterima. Jadi kalau ada usul yang ditolak, berarti usul tersebut tidak memenuhi syarat tersebut.

Itulah beberapa pertanyaan dan jawaban yang telah kami rangkum dari DigiHR E-Meetup bersama Josef Bataona. Pada sesi webinar tersebut beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa untuk menciptakan seorang pemimpin, kita harus bisa memimpin diri kita sendiri dan segala perubahan mulai dari diri kita terlebih dahulu. Ditambah lagi, perbedaan milenial, baby boomers dan sebagainya hanyalah sekat-sekat yang kita bikin sendiri. Yang terpenting, dalam memperlakukan rekan kerja dan team dari generasi mana saja, kita harus memanusiakan manusia dan tidak hanya melihat dengan sekat-sekat perbedaan. 

Leave a Reply

Be Our Hiring Partner

Digi Training is always attended by talented individuals with quality and passion for work. So our Hiring Partner and help companies find the best candidates. Find your best candidates in Digi Training.