DigiHR Meetup July 2019

Mau kemana? Semua ada tiketnya! Merupakan slogan dari salah satu Online Ticket Agent (OTA) di Indonesia yang didirikan pada tahun 2011 silam. Tiket.com OTA yang dimaksud. Melalui tiket.com kita bisa membeli berbagai tiket mulai dari tiket pesawat, hotel, kereta api, sewa mobil, dan berbagai tiket hiburan.

Memasuki tahun kedelapan, selain perkembangan dari produk tiket.com itu sendiri, dari sisi pengelolaan sumber daya manusianya pun semakin berkembang. Dudi Arisandi ialah Chief People Officer tiket.com yang memimpin divisi Human Resource (HR), General Affairs (GA), dan Procurement. Divisi tersebut terdiri dari 30 orang, sedangkan tim HR terdapat 20 orang yang mencakup People Strategy (Talent Acquisition, Organizational Development & Performance, Culture & Engagement, dan Learning), People Reward & HR System dan People Partner.

Pengalaman Dudi di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) kurang lebih 20 tahun. Selama 10 tahun di industri retail, 9 tahun di Fast Moving Consumer Goods, dan 7 bulan terakhir ini beliau bergabung di tiket.com. Fokus utama dari beliau adalah membantu transformasi tiket.com dari segi SDM. Para manajemen tiket.com bertekad untuk memastikan SDM yang bekerja mendapatkan perhatian penting dan menjadi best place to work. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pengelolaan SDM yang baik, tak hanya untuk full-time employee, tetapi karyawan lainnya yang kita kenal dengan Alternative Workforce

Bagaimanakah mengelola alternative workforce dengan efektif? Mari kita simak hasil wawancara tim DigiHR dengan Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com

Apa yang dimaksud dengan Alternative Workforce? Apakah tiket.com menerapkan Alternative Workforce?

Alternative Workforce adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan beberapa alternatif dalam mendapatkan talent-talent terbaik yang saat ini menjadi tantangan besar terutama bagi industri digital di Indonesia.

Ada beberapa divisi yang menerapkan alternative workforce, antara lain Technology, Product Development, HR, Commercial dan Marketing.

Dalam hal rekrutmen alternative workforce, tentu berangkat dari proses perencanaan tenaga kerja (Manpower Planning). Namun, tetap harus fleksibel, mengingat kebutuhan bisnis yang sangat cepat. HR wajib menjadi partner dari bisnis pada saat membicarakan kebutuhan alternative workforce dan HR harus siap dengan semua informasinya. Kita akan melakukan proses rekrutmen, ketika semua hal sudah jelas dan tujuannya mendukung strategi yang dibuat. Prosesnya melibatkan HR, Procurement dan Divisi yang membutuhkan.

Apa dampak yang selama ini dirasakan dengan adanya Alternative Workforce?

Dengan adanya alternative workforce, kami dapat fokus pada bisnis utamanya tiket.com dan menyerahkan sebagian pekerjaan kepada yang lebih ahli. Selain itu, dari sisi cost juga lebih terkontrol dan efisien.

Apa tantangan yang dihadapi dalam mengelola Alternative Workforce?

Ada beberapa, diantaranya Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia yang sangat manufacturing oriented sehingga kurang fleksibel buat industri yang bergerak sangat cepat seperti digital, culture dan engagement juga menjadi isu karena hubungan kerja yang tidak langsung dengan tiket.com, hal penting lainnya adalah productivity yang lebih sulit dikontrol langsung.

Berbagai strategi yang diterapkan dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain adalah memastikan kepatuhan terhadap peraturan ketenagakerjaan yang berlaku, membangun hubungan yang baik dengan pihak penyedia alternative workforce atau karyawannya langsung, melibatkan karyawan dari alternative workforce dalam kegiatan-kegiatan tiket.com, menugaskan dedicated person tidak hanya di fungsi yang memiliki alternative workforce, tapi juga di tim People/HR.

Apakah para Alternative Workforce mendapatkan program penunjang seperti selayaknya full-time employee?

Di tiket.com kami ingin memastikan bahwa semua yang bekerja untuk tiket.com merasa nyaman dalam bekerja dan mau menunjukkan potensi maksimalnya untuk keberhasilan tiket.com. Tidak semua program penunjang dapat disamakan dengan full-time employee, namun kami fokus pada hal-hal yang secara hukum ketenagakerjaan menjadi syarat mendasar, maka wajib bagi kami untuk memenuhinya dan kita tambah dengan benefit yang sesuai dengan kemampuan tiket.com.

Bagaimana komentar Anda tentang HR & Technology?

Saat ini bicara HR dan technology bukan hanya yang satu menunjang yang lain, HR dan technology harus “married” dan saling melengkapi. Namun, yang sering para HR practitioner lupa adalah mereka lebih fokus pada digitalisasi HR dan melupakan proses serta ilmu yang mendasar di dunia HR. Digitalisasi HR juga harus dirasakan manfaatnya oleh karyawan dan menjadi pengalaman yang berbeda.

Bagaimana komentar Anda tentang Managing Millenials?

Saya lebih suka menyebutnya Managing Generation, di tiket.com saat ini ada 3 generasi, yaitu Gen X, Millenialls, dan Gen Z. Pada dasarnya semua orang harus diperlakukan sama/equal apapun generasinya. Memang akan ada strategi-strategi yang berbeda untuk menangani masing-masing generasi tersebut. Tapi pekerjaan rumah terbesarnya adalah bagaimana menciptakan tempat kerja yang aman dan nyaman bagi semua generasi. Tiket.com ingin memastikan hal tersebut, bukan hanya sebagai tempat kerja terbaik dan keren, tapi juga menginspirasi bagi semua generasi yang ada di tiket.com.

One word to describe HR?

Connector

One word to describe Startup?

Fast

Tips untuk praktisi HR, khususnya di startup?

Jangan lupakan proses, percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Pastikan bahwa kehadiran kita di tempat kerja memberi positive IMPACT bagi orang lain, be a reason for people smile.

Tinggalkan Balasan

Be Our Hiring Partner

Digi Training selalu dihadiri oleh individu-individu berbakat dengan kualitas dan semangat berkarya. Jadi Hiring Partner kami dan bantu perusahaan untuk menemukan kandidat terbaik. Temukan kandidat terbaikmu di Digi Training.