Tak sedikit pemberi kerja yang enggan merekrut pekerja tunanetra dengan berbagai kekhawatiran. Akibatnya, kesempatan bekerja bagi disabilitas, khususnya tunanetra sangat terbatas. Padahal, bila diberi peluang yang sama, tidak ada yang perlu diragukan. 

Hilangkan Asumsi

Pada Peringatan Hari Disabilitas Internasional 5 Desember 2020 lalu, Suarise bersama DNetwork Indonesia dan Atamerica menepis kekhawatiran merekrut pekerja tunanetra. Dalam diskusi yang bertajuk “Inclusivity at Work: Recruit Your First Blind Employee Worry-Free” diulas tuntas berbagai perspektif dari pekerja tunanetra, aktivis  disabilitas, hingga pemberi kerja yang merekrut pekerja tunanetra. 

Dimoderatori oleh Rahma Utami, CEO Suarise Indonesia, mereka berbagi perspektif sesuai latar belakang masing-masing mengenai tantangan apa saja yang dialami dalam mewujudkan inklusivitas dalam dunia kerja serta bagaimana upaya mengatasinya. Hasil diskusi menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan khawatir harus melakukan penyesuaian besar yang berpotensi menghambat kegiatan perusahaan, diantaranya seperti kewajiban menyediakan pendamping bagi pekerja disabilitas, khususnya tunanetra untuk membantu mereka. 

Kekhawatiran lain yang muncul yakni keraguan pada kemampuan tunanetra yang dianggap terbatas. Ditambah lagi dengan aksesibilitas di tempat kerja yang dikhawatirkan menyulitkan rekan kerja lainnya. Hani Fauzia Ramadhani, Project Manager DNetwork Indonesia mengatakan bahwa semua itu asumsi belaka. 

Menurut Hani, belum banyak perusahaan yang menyadari bahwa tunanetra memiliki bakat yang kualitasnya tidak kalah dengan orang awas. Kondisi ini bisa menutup pintu bagi mereka artinya menyia-nyiakan kesempatan untuk menemukan the right man for the right place. 

..most of the time, it is us and society that make people disabled. Kita sudah terlalu sering berasumsi tentang kemampuan orang lain. Sekarang saatnya untuk menghentikan itu,” ungkap Hani.

Dalam kesediaan merekrut pekerja disabilitas, minim perusahaan yang membuka lowongan kerja khusus tunanetra. Barangkali ini disebabkan oleh ketidaktahuan perusahaan tentang kemampuan yang dimiliki oleh tunanetra tetapi tidak pernah diluruskan sehingga bertahan menjadi sebuah asumsi.

Sebagai contoh, asumsi sederhana bahwa tunanetra tidak bisa mengakses internet atau mengoperasikan smartphone dan laptop. Asumsi tersebut tentu salah karena faktanya tunanetra bisa menggunakan perangkat tersebut di kehidupan sehari-hari layaknya orang awas. 

Baca Cara Tunanetra Mengakses Internet!

Dengan kata lain, semua pekerjaan yang bisa terbaca oleh komputer sebenarnya bisa dilakukan oleh tunanetra. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ramya Prajna Sahisnu, Co-CEO ThinkWeb yang telah mempekerjakan M. Reza Akbar Ardiansyah atau yang biasa disapa Ega, seorang karyawan tunanetra.

Ramya menyebutkan bahwa gap yang ada antara disabilitas dengan perusahaan sebenarnya bukan gap skill, tetapi gap dialog. Artinya, perusahaan seharusnya bisa menjalin lebih banyak komunikasi dengan calon pekerja disabilitas tentang apa yang bisa mereka kerjakan sehingga tidak ada lagi asumsi-asumsi salah tentang tunanetra.

Adaptasi dan Hambatan Bekerja

Adaptasi menjadi kekhawatiran berikutnya dalam merekrut pekerja tunanetra. Bagaimana cara tunanetra dapat mengatasi berbagai hambatan ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja profesional bersama rekan kerja awas. Ega, seorang pekerja tunanetra mengakui bahwa awalnya memang rekan kerjanya merasa canggung dan sungkan untuk berinteraksi dengannya. 

Namun, seiring berjalannya waktu, intensitas komunikasi meningkat. Hal ini memungkinkan rekan kerja lain akhirnya bisa merasa lepas atau lebih santai saat berinteraksi dengannya, dan sebaliknya. Hambatan pada saat bekerja tentu ada, kata Ega, tetapi sejauh ini, kesulitan yang Ega hadapi selalu dapat diatasi dengan mudah berkat bantuan rekan kerjanya. 

Berdasarkan hal tersebut, ditilik dari sisi employer, penyesuaian pasti selalu membutuhkan waktu, tidak memandang apakah karyawan tersebut disabilitas maupun non-disabilitas. Karyawan awas pasti mengalami fase yang sama saat awal bekerja, misalnya hal kecil seperti kebingungan mencari tempat gelas di kantor dan lain sebagainya. Kondisi ini menunjukkan bahwa masa orientasi yang dijalani oleh karyawan disabilitas sangatlah normal dan proses mempekerjakan mereka tidak akan jauh berbeda dengan karyawan baru lainnya.

Disisi lain, Hani dari DNetwork Indonesia menambahkan bahwa pihaknya sebagai jaringan kerja untuk pencari kerja disabilitas dapat membantu perusahaan mempersiapkan orientasi bagi calon  pegawai disabilitas. Selain itu, DNetwork juga berkomitmen mempersiapkan orientasi bagi calon karyawan disabilitas agar mereka siap mental dalam menjalani dunia kerja.

Hal yang serupa dituturkan oleh Theresia Suganda, Project Manager di Suarise Indonesia,  sebagai lembaga pelatihan penulisan konten digital tunanetra. Pada masa seleksi calon peserta pelatihan, selain dilihat dari kemampuan tunanetra dalam mengoperasikan gadget dan internet, Suarise berperan memastikan bahwa mereka memiliki komitmen untuk menjalankan pekerjaan mereka kedepannya. 

Dalam hal proses pengerjaan, memang karyawan tunanetra mungkin membutuhkan lebih banyak waktu karena dalam melakukan riset, tidak semua website dan dokumen bisa diakses oleh mereka. Namun, There optimis karena talents di Suarise telah terbiasa dalam penggunaan internet dan pemahaman dokumen, sebagian besar pekerjaan bisa mereka selesaikan lebih cepat dan tepat. 

Berikut Portofolio talent Suarise.

Pada akhirnya, yang terpenting bagi perusahaan ialah menemukan talent terbaik untuk mengisi posisi yang tersedia. Apabila perusahaan tidak memberikan kesempatan bagi disabilitas untuk membuktikan bahwa mereka mampu bekerja secara profesional, maka perusahaan menyia-nyiakan kesempatannya untuk menemukan talent terbaik. 

Mempekerjakan disabilitas, khususnya merekrut pekerja tunanetra, tidak jauh berbeda dengan mempekerjakan non disabilitas atau orang awas. Hal yang terpenting di dunia kerja adalah apa yang mereka bisa lakukan, bukan apa yang tidak bisa mereka lakukan. Yuk simak kembali diskusi di sini.

Tinggalkan Balasan

Be Our Hiring Partner

Digi Training selalu dihadiri oleh individu-individu berbakat dengan kualitas dan semangat berkarya. Jadi Hiring Partner kami dan bantu perusahaan untuk menemukan kandidat terbaik. Temukan kandidat terbaikmu di Digi Training.