Pandemi merupakan salah satu contoh dari Business Disruption, tidak sedikit bisnis dan perusahaan yang terkena imbas dan dampak yang cukup kuat karena hal ini. Untuk tetap bertahan tentu dibutuhkan peran dari Human Resource yang baik dan mudah untuk beradaptasi agar karyawan tetap dalam pengelolaan yang baik dan tidak merugikan di satu pihak.

Lalu, bagaimana jawaban dari Human Resource dalam hal ini? Bagaimana pendapat mereka mengenai perubahan sistem kerja karena pandemi ini? Dalam DigiHR E-Meetup yang dilaksanakan pada 8 Juli 2020 lalu, kami berkesempatan untuk ngobrol dengan Kartika Akbaria, VP Human Capital & Corporate Affairs Ruangguru.

Kartika Akbaria memiliki pengalaman mendalam di bidang Human Capital Practitioner dan sudah cukup lama bekerja di bidangnya. Mengawali karir pertama nya di bidang Human Capital sebagai Vice Human Capital di salah satu perusahaan logistik terbesar di Indonesia dan saat ini melanjutkan karir sebagai Vice President Human Capital di Ruangguru.

Ruangguru sendiri adalah sebuah perusahaan startup teknologi asal Indonesia yang berdiri sejak tahun 2014 dan telah memiliki 15 juta lebih pengguna. Ruangguru menawarkan platform pembelajaran berbasis kurikulum sekolah melalui video tutorial interaktif oleh guru dan animasi di aplikasi ponsel.

Kami merangkum beberapa pertanyaan yang diajukan peserta terkait dengan peran Human Resource dan solusi digital yang digunakan dalam masa pandemi ini dan dijawab langsung oleh beliau.

Dengan kondisi WFH sekarang, menurut Ibu apakah virtual coaching tetap dilakukan di masing masing perusahaan? 

Virtual coaching tetap dilakukan dan justru lebih intens selama masa pandemik ini, karena people managers perlu memastikan produktivitas setiap orangnya khususnya yg bekerja dari rumah.

Apakah ada pengalaman dalam melakukan awareness mengenai pentingnya virtual coaching?

Untuk meningkatkan awareness mengenai pentingnya coaching, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Pastikan setiap people manager memiliki skill untuk memberikan coaching yang efektif. Kita bisa melakukan training tentang ini sebelum meminta para people managers melakukan coaching reguler. Bagi yang sudah tahu, anggap sebagai refresher. Bagi yang belum tahu, menjadi ilmu baru dan persiapan.

2. Siapkan infrastruktur untuk mendukung kegiatan virtual coaching, misalnya akses zoom/online tools yang lain, google calendar, growth journal dimana hasil coaching bisa didokumentasikan, dll.

3. Mulai dari level senior manajemen. Ajak tim manajemen untuk melakukan hal yang sama dan menjadi promotor budaya coaching secara virtual.

4. Komunikasikan secara intens di berbagai saluran komunikasi internal, dengan bentuk yang menarik, misal: komik, short video, dst. Dengan terus menerus didengungkan, karyawan akan lebih aware dan harapannya bisa juga terbiasa pada akhirnya.

Bagaimana cara berkomunikasi dengan karyawan untuk bisa secara aktif memberi feedback dan diskusi, jika kondisi kebanyakan karyawan adalah pasif dan kurang vokal dalam menyampaikan pendapat?

Ketika karyawan pasif, bisa jadi karena mereka tidak dibiasakan untuk speak-up ketika meeting di dalam forum, atau kurang referensi dalam hal yang sedang dibahas.

Beberapa cara untuk memancing partisipasi aktif dari karyawan yang menurut kita pasif antara lain:

1. Berikan kesempatan pertama kepada karyawan untuk memberikan pendapat sebelum para pimpinan memberikan arahan/pendapat. 

2. Berikan kesempatan bergilir untuk menjadi host dalam meeting.

3. Pancing dengan pertanyaan: “Apa pendapat Bapak/Ibu mengenai …?”

Lakukan terus menerus dan kita lihat hasilnya.

Berdasarkan penjelasan Ibu mengenai 3W, aspek apa yg menurut Ibu paling penting diterapkan atau diutamakan untuk company yang belum dapat menerapkan semua 3W tersebut karena keterbatasan company?

Workforce, workspace, wellness. Apa yang perlu diutamakan, dikembalikan kepada prioritas perusahaan. Tapi jika di-ranking, menurut saya wellness atau kenyamanan kerja karyawan tetap yang utama, dimanapun mereka bekerja. Pastikan bahwa mereka mendapatkan hak haknya tapi juga tetap diingatkan untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik. Mereka mendapat perhatian yang cukup dari perusahaan, tentunya sesuai kemampuan perusahaan.

Bagaimana meyakinkan pihak manajemen tentang pentingnya employee wellness, ketika dari sisi management yang dikejar adalah regrowing the business di saat new normal ini?

Yakinkan dengan data, bukan sekadar proposal narasi tanpa referensi dan justifikasi yang kuat. Data tersebut bisa berasal dari internal (misal: kuesioner ke karyawan) dan eksternal (misal: artikel, hasil riset, webinar, dll). Selain itu, ketika presentasi ke Manajemen, perlu ada story yang solid dan terstruktur. Mulai dari latar belakang kenapa ini perlu diulas, bagaimana referensi yang kita punya, bagaimana kondisi saat ini, dan proposal yang kita ajukan. Akan lebih baik jika ada senior HR leader yang juga biasanya sangat membantu untuk meyakinkan Manajemen.

Bagaimana menumbuhkan atau meningkatkan sense of innovative disruption kepada seluruh karyawan, dimana kondisinya: mayoritas karyawan adalah millennials, namun mayoritas Leaders adalah ‘Kolonial’?

Millennials is not an age, it is a mindset. Dalam beberapa artikel yang pernah saya baca, millennials adalah mereka yang lahir dimana paparan teknologi sudah sangat masif sehingga mereka terbiasa untuk menggunakan teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka. Saat ini banyak aspek sudah beralih ke digital dan kebanyakan orang akhirnya terbiasa menggunakan teknologi. Jadi, coba awali dengan diskusi dengan para leader dan pahami mindset mereka. Ajak leader yang memiliki mindset disruptive innovation untuk bersama sama memulai terobosan. Mulai dari yang kecil tapi konsisten.

Selain itu, perlu dipahami bahwa setiap orang akan merasa sibuk, jadi kita perlu juga berusaha terus menerus dan fokus dalam menjual ide/program inovasi kita. Tekankan dan tunjukkan apa manfaatnya bagi mereka. Apa peran yang dapat mereka lakukan.

Dari pertanyaan dan jawaban diatas dapat disimpulkan bahwa peran Human Resource termasuk yang paling penting dalam transisi masa dan berpengaruh dalam kesejahteraan perusahaan dan karyawan.

Satu kata untuk mendeskripsikan HR.

Caring

Bagaimana komentar Ibu tentang HR dan teknologi?

Saat ini HR dan teknologi perlu berkolaborasi untuk menciptakan high performing team and organization. HR membutuhkan teknologi sebagai katalisator proses. Teknologi juga butuh sentuhan HR dalam proses sosialisasi dan inklusinya.

Bisa disimpulkan bahwa menggunakan perangkat digital untuk menjaga produktivitas dan menjaga hubungan dengan karyawan. Terutama di masa pandemi di mana masyarakat lebih disarankan untuk tidak bertemu langsung. Pelatihan atau coaching pun dapat dilakukan secara virtual sehingga tidak perlu terhenti meskipun ditengah pandemi.

Tinggalkan Balasan

Be Our Hiring Partner

Digi Training selalu dihadiri oleh individu-individu berbakat dengan kualitas dan semangat berkarya. Jadi Hiring Partner kami dan bantu perusahaan untuk menemukan kandidat terbaik. Temukan kandidat terbaikmu di Digi Training.